DETIL BERITA

PP Tentang Kecamatan Terbit, Begini Isinya

23-05-2018

Kecamatan dibentuk dengan peraturan daerah kabupaten/kota.

Pada 3 Mei lalu, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan. PP ini merupakan ketentuan pelaksanaan dari Pasal 228 dan 230 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Dalam PP disebutkan, kecamatan atau yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah dari daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh camat.

Untuk pembentukan kecamatan dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui pemekaran satu kecamatan menjadi dua kecamatan atau lebih. Kedua, penggabungan bagian kecamatan dari kecamatan lainnya yang bersandingan dalam satu daerah kabupaten/kota menjadi kecamatan baru.

“Kecamatan dibentuk dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” bunyi Pasal 3 ayat (3) PP ini sebagaimana dikutip dari laman resmi setkab.go.id, Rabu (23/5).

Untuk kepentingan strategis nasional, menurut PP ini, pemerintah pusat dapat menugaskan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota tertentu melalui gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk membentuk kecamatan. Pembentukan kecamatan tersebut meliputi, kecamatan di kepulauan terpencil dan terluar, kecamatan di kawasan perbatasan darat dan kecamatan dalam rangka kepentingan strategis nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Adapun penggabungan kecamatan, menurut PP ini, dapat dilakukan berupa penggabungan dua kecamatan atau lebih yang bersanding dalam satu daerah kabupaten/kota. Penggabungan kecamatan ini dapat dilakukan melalui tiga cara. Pertama, apabila terjadi bencana yang mengakibatkan fungsi penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dilaksanakan.

Kedua, terdapat kepentingan strategis nasional. Ketiga, tercapai kesepakatan antara kepala daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten/kota berdasarkan hasil kesepakatan antara seluruh desa/kelurahan yang akan bergabung. “Kecamatan yang digabung sebagaimana dimaksud dapat menggunakan nama salah satu kecamatan yang tergabung atau menggunakan nama baru,” bunyi Pasal 8 ayat (3) PP ini.

Tugas Camat

Dalam PP ini juga disebutkan tugas seorang camat.  Pertama, menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di tingkat kecamatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan urusan pemerintahan umum. Kedua, mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. Keempat, mengoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.

Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, menurut PP ini, camat juga mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut antara lain untuk melaksanakan sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota dan untuk melaksanakan tugas pembantuan. Sebagian urusan pemerintahan yang dilimpahkan tersebut terdiri atas pelayanan perizinan dan non perizinan.

“Pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan kriteria: a. proses sederhana; b. objek perizinan berskala kecil; c. tidak memerlukan kajian teknis yang kompleks; dan d. tidak memerlukan teknologi tinggi,” bunyi Pasal 11 ayat (3) PP ini.

Khusus untuk camat di kawasan perbatasan negara yang wilayahnya di luar pos batas lintas negara, menurut PP ini, dapat membantu pengawasan di bidang keimigrasian, kepabeanan, dan perkarantinaan yang ditugaskan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian terkait kepada bupati/wali kota.

Selain itu, camat di kawasan perbatasan negara dapat diberikan kewenangan tertentu sesuai penugasan dari pemerintah pusat secara berjenjang dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan perbatasan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

PP ini juga mengatur mengenai masalah kelurahan, dari pembentukan hingga kedudukan kelurahan dan tugas lurah, termasuk juga masalah pendanaan, dan pakaian dinas camat dan lurah. “Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018, yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada 8 Mei 2018 itu

BANYUWANGI EVENT

LINK TERKAIT

KUNJUNGAN