DETAIL BERITA
Ini Dampak Negatif Kebijakan Tarif Trump terhadap Ekonomi Domestik dan Global
Banyak studi menunjukkan dampak negatif dari perang dagang terhadap perusahaan-perusahaan AS. Salah satunya adalah penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan tarif menyebabkan penurunan ekspor oleh perusahaan-perusahaan AS.
Motivasi utama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam membuat kebijakan tarif diketahui adalah untuk menciptakan trade balancing atau keseimbangan perdagangan antara AS dengan mitra dagangnya.
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menilai bahwa tujuan tersebut sangat sulit dicapai secara realistis. Meski kebijakan ini belum diterapkan sepenuhnya, Riefky menilai langkah tersebut bisa menjadi bentuk weaponization of tariff.
"Kita lihat memang masih sangat dinamis dan terus berkembang. Saat ini implementasinya juga sedang diundur selama 90 hari dan masih dalam tahap negosiasi," jelasnya dalam Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Webinar Series bertajuk ‘IHSG Anjlok, What to do?’, Selasa (15/4).
Menurutnya, AS adalah ekonomi terbesar di dunia. Secara alami, AS menjadi vendor terbesar untuk berbagai produk global. Kalau mereka memaksakan trade balance dengan semua negara, maka pilihannya hanya dua, yakni mengurangi konsumsi atau mengenakan tarif tinggi.
“Kalau dia kemudian mau mendorong untuk trade balancing itu menjadi imbang dengan semua negara maka yang terjadi akan beberapa hal. Satu, either mereka mengurangi konsumsi-nya atau kedua, dia itu akan menerapkan tarif setinggi-tingginya ke negara lain,” paparnya.
Dua skenario tersebut, lanjut Riefky, sama-sama berisiko menimbulkan dampak negatif. Selain mengancam perekonomian domestik AS sendiri, langkah tersebut juga bisa memicu perlambatan ekonomi secara global.
Ia menyoroti bahwa kebijakan serupa pernah diterapkan pada periode pertama kepemimpinan Trump, terutama terhadap produk-produk dari China. Namun, meski sempat memperbaiki defisit perdagangan AS dengan China, kebijakan tersebut justru memperburuk defisit dengan negara lain, sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap keseluruhan neraca perdagangan AS.
Lebih lanjut, Riefky memaparkan banyak studi telah menunjukkan dampak negatif dari perang dagang tersebut terhadap perusahaan-perusahaan AS. Salah satunya adalah penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan tarif menyebabkan penurunan ekspor oleh perusahaan-perusahaan AS.
Hal ini, kata dia, terjadi karena sebagian besar perusahaan tersebut mengandalkan bahan baku impor yang menjadi lebih mahal akibat tarif, sehingga menurunkan daya saing produk ekspor.
"Bahkan ada estimasi bahwa tarif yang dikenakan Trump terhadap barang-barang dari China pada trade war jilid satu itu setara dengan mengenakan tarif sekitar 2% terhadap ekspor produk AS. Jadi perusahaan domestik AS yang seharusnya dilindungi justru menjadi pihak yang paling dirugikan," kata Riefky.
Tak hanya itu, sektor industri manufaktur AS juga terdampak serius. Kenaikan biaya produksi membuat banyak perusahaan mengalami kesulitan dan berujung pada pengurangan tenaga kerja.
“Di industri-industri tersebut, ini malah terjadi kehilangan penciptaan lapangan kerja. Atau justru terjadi layoff. Nah inilah yang kemudian menunjukkan bahwa tidak hanya tarif itu merugikan perusahaan domestik AS itu sendiri, tapi justru bisa memicu naiknya pengangguran di AS,” tambahnya.
Riefky juga menyoroti dampak dari sisi konsumen AS. Ia menjelaskan bahwa tarif tinggi terhadap barang impor tak hanya membuat harga barang menjadi lebih mahal, tetapi juga mengurangi keberagaman produk di pasar domestik.
Menurutnya, kalau semua dikenakan tarif tinggi, selain jadi mahal, barangnya juga makin sedikit dan kurang beragam. Ia mengutip studi dari Amiti, Redding, dan Weinstein yang menunjukkan bahwa keberagaman produk menyumbang sekitar 50% dari pertumbuhan ekonomi AS. Oleh karena itu, penurunan ragam produk bisa berdampak besar terhadap penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
“Poin-poin ini yang kemudian masih nggak dikejar, nampaknya oleh Trump berusaha mencapai trade balance dengan semua negara, ini simply nggak make sense,” ucapnya.
Selain itu, Direktur Utama PT KGI Sekuritas Indonesia, Antony Kristanto, menambahkan gejolak perang dagang ini semata-mata karena AS tidak mau China menjadi negara dengan ekonomi terbesar. Adapun dampaknya tidak hanya mengganggu rantai pasok global, tetapi juga menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS ke depan.
Ia juga menyoroti perhitungan tarif AS yang dianggap tidak berbasis data ekonomi yang akurat. Perhitungan tersebut, kata dia, menggunakan parameter elastisitas impor dan substitusi yang tidak mempertimbangkan karakteristik spesifik dari produk masing-masing negara.
“Kalau orang bilang ini dagelannya mereka, dagelannya US tidak ada dasar ekonomi sama sekali,” tegasnya.
Terkait dampak ke Indonesia, Antony menyebutkan bahwa sektor-sektor yang terkena tarif AS antara lain mesin perekapan elektronik, pakaian dan aksesori, serta lemak dan minyak nabati. Meski demikian, ia menilai efek langsung terhadap pasar saham Indonesia relatif terbatas karena sebagian besar perusahaan terdampak bukanlah market mover utama.
Di sisi makro ekonomi, Antony memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih akan bertahan di kisaran 5,2 persen, meski target ambisius 8 persen kemungkinan besar sulit tercapai. “Jadi boleh dibilang bahwa kita untuk GDP di tahun ini mungkin kita tidak seperti yang kita harus takutkan ya,” katanya.
Hanifah Dwi Jayanti